Memulai Bahasa Langit
Waktu pertama kali gue kenal bahasa langit yang satu ini ‘Tarbiyah’ gue udah duduk di kelas XII SMA Akhir. menjelang akhir hayat masa putih-abu. cukup tua memang…. yaaaa kecepatan paham seseorang memang disebabkan oleh banyak hal, kebetulan IQ yang gue punya tidak lebih tinggi dari IQ ikan asing yang digoreng mama.
tapi, agak berbeda ketika dikenali dengan istilah mentoring. Mentoring udah berhasil menjamah gue semenjak SMP kelas 7. dibimbing oleh seorang mentor yang kejatuhan sial punya mentee agak brutal setipe gue. namanya a eko. rambutnya agak cepak. tapi dia bukan Crayon Shinchan.
dan dia bukan homo.
musholla di SMP sempit. jadi sewaktu mentoring dengan jumlah massa 15 – 20 orang cukup membuat kita merasakan feels nya sauna tiap minggu…. wal hasil kita pindah ke Masjid Istana Bogor.
sebetulnya kalo sekarang mengingat lagi masa dulu mentoring kelas 7, benar – benar ga ada isinya …. dari pertemuan dari ba’da zuhur (12.15an) sampai jam 13.00 kalau tidak salah. 80% kita pake buat aksi lawak….. entah ngebahas guru rese’ …. yang mana yang make-upnya paling tebel, tugas banyak,dll …. sampai yang menurut gue paling mendekati kebenaran adalah diskusi hubungan durhaka sama orangtua dan film hidayah dimana mayat penuh belatung.
tadinya mau dibuat karya ilmiah, eh berhubung Hidayah bukanlah discovery channel jadi ga mungkin dimasukin jadi daftar pustaka.
tapi, dari 6 hari sekolah rasa kangen hari sabtu buat dateng ke masjid istana menghantui setiap minggu. kalo abis mentoring rasanya pengen cepet lagi hari sabtu….begitu terus.
hingga semester ganjil pun selesai. dan berakhirlah tarbiyah kisah gue masa putih-biru.
Di SMA semua berubah total.
dulu, di SMP punya banyak pacar …. sampai setiap kelas ada (oke, baris ini memang bohong)
di SMA, kerjaannya di masjid. memang sih, engga shalat juga ….. tapi gue pikir masjid adalah tempat yang menenangkan. kalo ada tempat yang paling enak berbuat segalanya masjid adalah jawaban nomer satu. oke, kecuali pipis kegiatan yang kayak gini harus tetep di toilet.
dan yang paling penting, kembali tarbiyah menyapa. lewat mentoring kelas. dibina oleh seorang mentor super-ganteng-tapi-naas Reihan Akira, Ketua 1 OSIS.
walau perjumpaan gue dengan tarbiyah di SMA di awali dengan acar guling dan salto -dan masih dilakukan hingga saat ini- itu membuat gue memulai lembaran baru. dan sampai saatnya dibina di kelompok yang lebih intens. dibina dengan orang yang lebih dahsyat. gak cuma ilmu, bahkan soal cara ngenalinnnya pun spesial. kalo mentoring cuma dibina sama A Reihan, orang nanya :
‘Reihan yang mana sih ?’
bisa banyak jawaban ‘Yang maen bass pas Pensi !’, atau ‘yang jadi Ketua 1 OSIS itu loooh’
atau kalo bagi laki-laki secara terpaksa berkata ‘yang ganteng itu looh ….’ dengan rasa hati tercabik-cabik.
agak berbeda dengan kelompok yang kali ini lebih intens, mentornya gak lagi ketua 1, tapi Ketua Umum MPK. yang kalo dideskripsiin, cukup absurd dan kaya akan disorientasi :’Orang yang bayangnnya aja udah nakutin’.
ajaib.
Sedikit, Tapi Spesial
tapi, yah begitulah dinamika tarbiyah dari dulu-hingga sekarang. ketemu berbagai macam mentor, ada yang imut, yang gaul-preman, yang alay, yang plegmatis, sampai yang kebelet nikah.
dan, yang menjadikan tarbiyah spesial dihati adalah bersitan materi… materi ketika menjalani sebuah liqa’at (pertemuan) sebetulnya tidak banyak. paling banyak 5 poin berupa keyword. jauh dari bayangan bahwa orang-orang yang mengalami tarbiyah khatam berbgai rasa kitab kuning…. dari yang kertasnya emang kuning, sampai kertasnya ….. ya kuning (apalagi?)
tapi, menurut gue tarbiyah membiarkan kita banyak melakukan renungan. renungan yang kadang menegur diri….. tidak dipusingkan dengan berbagai teoritis dan huruf keriting, tapi cukup membuat kita faham akan jati-diri. cukup. tidak lebih hingga membuat pusing dengan banyak terminologi, atau tidak kurang hingga jadi ringkih.
lingkaran-lingkaran tarbiyah juga jadi parameter, karena beda derajat iman sedikit, dalam satu liqa’at sangat terasa.
Dan memang sejak dahulu tarbiyah dirancang untuk menargetkan muwashafat. bukan tersampaikannya materi, atau kuantitas orang yang datang. tarbiyah dikatakan berhasil ketika sang mad’u berhasil mencukupi garis batas muwashafat.
terlebih akhir-akhir ini sering banyak berdiskusi dengan beberapa senior asrama, atau guru, bercerita bahwa tidak sedikit dari sahabat mereka baik laki-laki maupun perempuan, berubah dari yang berjilbab menjadi gaul, dari da’i jadi maniak diskotik, dari alim masjid menjadi hobi seks bebas. karena lepas dari tarbiyah.
maka ketika ditanya oleh seorang mentor ‘Apa yang harapan kalian bagi teman-teman kalian ?’ gue menjawab ‘Tetaplah Tarbiyah’
Ikut Lembaga dakwah bukanlah parameter pasti bahwa ia mendapat kebaikan, apalagi ikut organisasi politik kampus. tapi istiqomah dalam tarbiyah, Allah akan mengampuni mereka, mengambulkan pinta mereka, dan melindungi mereka. bahkan saat kedatangannya tak disengaja (Shahih Muslim No.4854)
Karena dilingkaran tarbiyah, kita memetik cinta langit.
sumber cinta utama yang kemudian kita tebar di pelosok bumi.
di tarbiyah, kita juga merajut benang ukhuwah. hingga rasul dan para nabi pun cemburu pada kita.
saat kita duduk diatas mimbar-mimbar cahaya.
mungkin karena itu, dari dulu hingga sekarang.
tarbiyah selalu menyejarah.
Popularity: 100% [?]
Kereeeeeeen…!!!
sebetulnya mau komen di blog teteh … cuma akhir-akhir ini isinya curhat dewa semua ….. hehehe
cenna.. -.-’
mungkin sudah saatnya sena megang kelompok yg sedikit tp spesial itu ya^^
aduh,
saya sibuk BEM teh …..
ini jawabannya rada menyindir -__-”
pikiran nisop kok sama kayak teh hening ya, sejak awal membaca tulisan ini. haha
yupyup. segera bergabung, noxi
tarbiyah bener-bener charger buat jiwa kita.
mentoring/liqo bukan keperluan, tapi kebutuhan.
sifatnya yg continue bikin hidup jadi ada feelnya.
yg bikin saya berkesan kalo mentoring tuh waktu kita baca do’a rabithah.
Subhanallah itu artinya dalem bangeeet..
keep mentoring!
^^
assalamu’alaykum. ana senang dengan tulisan nt. renyah sekali bahasanya.
assalamu’alaikum.. berbicara soal tarbiyah.. mengharu biru, tarbiyah yang mengubah hidup saya sekeluarga menjadi lebih baik. tulisan nt keren, seneng bacanya